Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Demikian pepatah
lama yang berarti segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita itu
tidak pasti dan menjadi rahasia Sang Pencipta.
Ketidakpastian juga sangat mungkin terjadi dalam kondisi finansial
sebuah keluarga. Siapa yang bisa menjamin sebuah keluarga yang
berkecukupan akan selamanya berkecukupan? Bagaimana jika tulang punggung
keluarga tiba-tiba berpulang, sementara dia memiliki tanggungan yang
banyak?
Demi menjaga keberlangsungan orang yang ditinggalkan
tersebut, penting sekali memproteksi tujuan finansial dengan asuransi
jiwa murni. Asuransi jiwa murni berarti asuransi ini hanya untuk
memenuhi kebutuhan proteksi atau tanpa skema investasi. Namun, apakah
setiap orang perlu memiliki asuransi ini? Belum tentu.
Perencana
keuangan dari MoneynLove Financial Planning & Consulting Pandji
Harsanto menjelaskan, mereka yang sudah mempunyai penghasilan dan
memiliki tanggungan, seperti anak dan pasangan yang tidak bekerja, cocok
memiliki produk asuransi jiwa. Namun, Anda yang sudah mempunyai
penghasilan tetapi masih lajang dan tak ada pihak yang menggantungkan
hidupnya pada Anda tidak perlu membeli produk ini.
Perencana
keuangan dari PT Quantum Magna Mohammad B. Teguh menambahkan, satu
pengecualian lagi, yakni mereka yang mempunyai aset lancar memadai.
Maksudnya begini, jika kebetulan Anda memiliki aset lancar atau
pendapatan sampingan (passive income) yang jumlahnya melebihi kebutuhan asuransi jiwa dan kebutuhan rutinnya (cash flow),
Teguh juga tak menyarankan Anda membeli asuransi jiwa. “Karena meskipun
dia meninggal, keluarga yang ditinggalkannya tidak akan terlantar,”
ujarnya.
Jika pasangan suami-istri bekerja, perlukah keduanya
memiliki asuransi jiwa? Menurut Pandji, jawabannya bergantung pada
fungsi penghasilan keduanya. Taruh kata, penghasilan istri hanya
digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi alias tidak untuk mencukupi
kebutuhan keluarga, Pandji tak menyarankan istri membeli asuransi jiwa.
Sebaliknya,
jika pendapatan istri ternyata sangat berperan besar dalam mencukupi
kebutuhan keluarga, sebaiknya, istri juga membuat asuransi jiwa. Pandji
menyarankan, sebaiknya jangan menggunakan anak sebagai ahli waris meski
dana diperuntukkan baginya. “Sebaiknya pakai wali waris agar lebih mudah
mengeksekusi manfaat asuransi dan menghindari kesulitan melikuidasi
uang pertanggungan (UP),” kata Pandji.
Pada dasarnya, fungsi
asuransi jiwa adalah sebagai antisipasi untuk menggantikan pendapatan
orang yang meninggal. Tujuannya agar orang yang hidupnya bergantung pada
orang yang kemudian meninggal tersebut masih bisa bertahan dari sisi
finansial.
Agar Anda tak merasa terbebani dengan premi yang
dibayarkan, perencana keuangan dari Fahima Advisory Fauziah Arsiyanti
menekankan agar cicilan premi tak mengganggu cash flow dan tabungan wajib untuk dana pendidikan. Pasalnya, banyak nasabah asuransi berhenti di tengah jalan karena terbebani premi.
Para perencana keuangan menyarankan, Anda mengalokasikan maksimal 10%
dari penghasilan untuk membeli asuransi. Pandji menyebut asuransi jiwa
dan kesehatan sebagai prioritas utama dari sekian jenis asuransi.
Mengenal aneka metode penghitungan
Namun,
jangan asal membeli produk asuransi. Masih ada pekerjaan yang harus
Anda lakukan sebelum memilih produk asuransi jiwa, yakni menghitung uang
pertanggungan (UP) yang ingin Anda “wariskan” untuk ahli waris Anda.
Ada
beragam metode penghitungan uang pertanggungan. Masing-masing metode
akan menghasilkan angka yang berbeda pula. Para perencana keuangan
menekankan, pemilihan metode harus disesuaikan dengan tujuan finansial
serta kemampuan. Sebab, besaran UP bakal mempengaruhi nilai premi yang
mesti Anda bayarkan dalam kurun waktu tertentu.
Tentu, penentu
besaran premi bukan hanya UP. Ada faktor lain yang berperan, seperti
profil pemegang polis dan underwriting perusahaan asuransi. Underwriting
adalah proses perusahaan asuransi jiwa memutuskan apakah akan
menerbitkan polis yang diminta calon nasabah atau tidak. Dalam hal ini,
perusahaan asuransi juga akan memutuskan syarat dan kondisi apa yang
diberlakukan serta berapa besar tingkat premi yang dikenakan.
Berikut ini beberapa ulasan metode penghitungan UP yang mungkin bisa Anda pertimbangkan.
Income replacement based
Income Replacement Based
(IRB) adalah metode yang bisa digunakan untuk menghitung berapa
pendapatan seseorang hingga pensiun. Misal, pendapatan A sebulan Rp 10
juta. Usia A saat ini 35 tahun dan ingin pensiun di usia 55. Jadi, masa
produktifnya 20 tahun lagi. Dengan metode ini, cara menghitung UP A
adalah Rp 10 juta x 12 (bulan) x 20 (tahun). Hasilnya Rp 2,4 miliar.
Jika
A meninggal dan nilai konsumsi keluarga setiap bulannya sebesar Rp 10
juta, uang pertanggungan baru akan habis 20 tahun kemudian. “Metode ini
biasanya cocok untuk orang yang pensiunnya tidak lama lagi,” kata Teguh.
Human life value based
Human Life Value Based
(HLVB) menghitung pendapatan seseorang sampai pensiun tapi dengan
memperhitungkan hasil investasi instrumen yang memiliki risiko minim (risk free rate).
Ketika A meninggal, UP itu oleh keluarganya ditempatkan di instrumen
risk free, seperti deposito, obligasi ritel Indonesia (ORI), dan Sukuk
Ritel. Jadi selain menerima UP, ahli waris juga akan menerima hasil
investasi (return).
Metode ini menghitung nilai sekarang (present value) pendapatan plus risk free rate.
Dengan asumsi yang sama, cara menghitungnya: Rp 10 juta x 12 (bulan) x
(100% + 5,2%) x 20 (tahun) : 105,2% pangkat 20 - 1. Hasilnya, UP
dibutuhkan kurang lebih Rp 1,437 miliar.
Income value based
Metode Income Value Based
(IVB) digunakan untuk mencari tahu berapa besar nilai yang apabila
ditempatkan di deposito atau dibelikan obligasi ritel akan menghasilkan
return setiap bulan sebesar pendapatan tertanggung. Cara menghitungnya,
pendapatan dalam setahun dibagi dengan risk free rate.
Masih dengan asumsi yang sama seperti sebelumnya maka cara perhitungnya adalah: Rp 10 juta x 12 (bulan) : risk free rate 5,2%. Hasil perhitungan simulasi tersebut adalah besaran UP sekitar Rp 2,3 miliar. Teguh merekomendasikan metode ini jika risk free rate
tinggi. “Atau jika kemampuan keluarga yang ditinggalkan kelak cukup
memadai untuk mengelola UP dengan melakukan investasi yang baik,”
urianya.
Survival value based
Metode Survival Value Based
(SVB) adalah menghitung pendapatan selama masa produktif sampai usia
pensiun lalu ditambah dengan utang-utang yang dimiliki dan kebutuhan
dana darurat keluarganya. Cara menghitungnya bisa menggunakan IRB, HLVB,
atau IVB + utang-utang + kebutuhan dana darurat.
Teguh bilang,
metode ini cocok untuk keluarga yang memiliki utang besar dan utangnya
tersebut tidak dilindungi asuransi jiwa kredit.
Family needs based
Metode Family Needs Based
(FNB) adalah metode yang sangat lengkap. Sebab, metode ini menghitung
kebutuhan-kebutuhan keluarga setelah tertanggung meninggal. Jadi
menghitungnya bukan dari pendapatan tapi dari berapa besar kebutuhan
keluarga yang ditinggalkan? “Alasannya, pengeluaran pribadi tertanggung,
kan, sudah tidak ada lagi,” beber Teguh.
Cara menghitungnya dengan menjumlahkan pengeluaran keluarga yang ditinggalkan, dihitung dengan nilai sekarang (present value)
lalu ditambah kebutuhan dana darurat, dana pendidikan anak-anak, utang,
dan kebutuhan lainnya jika memang ada. Hasilnya kemudian dikurangi aset
lancar yang dimilik saat ini.
Menurut Teguh metode ini cocok
jika seseorang ingin memastikan dengan persis kebutuhan keluarga
sepeninggal si tulang punggung tersebut. Namun, metode ini membutuhkan
perhitungan lebih teliti dan telaten tentunya.
Setelah tahu cara
menghitung UP, kini, saatnya Anda membandingkan produk asuransi yang
menawarkan premi paling mini dengan UP yang sama. Selamat melakukan
survei.
sumber kontan.co.id
Hitunglah dengan cermat agar ahli waris terjamin!
11:45 PM
nickku