Perlindungan semua investasi dan asset sebagai kebutuhan dasar

Keamanan dan Resiko

Pilhan sebuah investasi, Hight risk hight gain.

Kebutuhan dasar

Perlindungan sebagai kebutuhan dasar

enjoy

Ketenangan setelah kepastian akan resiko.

insurance one

Satu kebutuhan Pokok untuk jaminan atas segala kebutuhan

Obligasi

Salah satu pilihan berinvestasi

Kehasuran Manabung atau Menyesal

Menabung adalah kewajiban saat ini untuk mempersipkan hari depan.

Improvisai Investasi

Pilhan dalam ber investasi

Perencanaan Keuangan

Perencanaan Keuangan sebagai keharusan untuk mengantisipasi kondisi keuangan

Analisa

Analisa merupakan keharusan, investasi bukan Judi

Surfing

Menikmati salah satu gelombang kehidupan

Showing posts with label Perencanaan Keuangan. Show all posts
Showing posts with label Perencanaan Keuangan. Show all posts

Menyusun rencana kehidupan di masa senja

JAKARTA. Menghabiskan masa senja dikelilingi anak dan cucu mungkin menjadi harapan bagi sebagian besar orang kelak. Selain limpahan kasih sayang, tak adanya kendala dari sisi keuangan tentu akan membuat hati para lanjut usia (lansia) tenteram.
Namun kenyataan kadang tak selamanya manis. Banyak hal yang terkadang meleset dari harapan. Misalnya, anak-cucu sibuk dengan aktivitas masing-masing atau anak-cucu Anda tinggal di tempat yang jauh. Bisa juga hal ini menimpa Anda yang tak punya anak atau memutuskan hidup melajang. Sementara itu, Anda tetap harus berjuang supaya bisa bertahan hidup dari sisi finansial dan dari segi fisik.
Anda tentu mafhum, pada usia tertentu, seseorang berangsur-angsur bisa kehilangan kemampuan untuk melakukan hal-hal dasar, seperti berjalan dan mandi. Oleh karenanya, para perencana keuangan menyarankan agar Anda juga memasukkan biaya perawatan di usia lansia dalam daftar kebutuhan dana pensiun.
Lantas sejak kapan Anda mulai harus memikirkan pendanaan masa tua ini? Para perencana keuangan kompak menjawab sebaiknya sedini mungkin sejak Anda mulai mendapatkan penghasilan. Alasannya, makin dini Anda memulai, makin ringan cicilan dana masa tua Anda. Di samping itu, tempo yang panjang memungkinkan Anda lebih leluasa untuk memilih keranjang investasi.
Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno mengatakan, minimal dana yang mesti diinvestasikan adalah 10% dari total penghasilan dan idealnya 30%. Fungsi dana ini beragam, termasuk pendanaan untuk masa lansia. “Soalnya alokasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jam-sostek) yang rata-rata 2%–5% dari gaji, menurut saya, tidak akan cukup,” kata Mike.
Jika diurutkan dari sisi prioritas pemenuhan kebutuhannya, perencana keuangan dari AFC Financial Check Up Lisa Soemarto mengatakan, dana hari tua berada pada urutan kelima bersama dengan kebutuhan pembelian rumah sebagai investasi. Sementara urutan pertama hingga keempat berturut-turut adalah arus kas yang positif, tidak ada utang konsumtif, terpenuhinya dana darurat, asuransi kesehatan plus asuransi jiwa jika ada orang yang bergantung pada penghasilan Anda.
Jika empat kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, seseorang lebih leluasa merancang alokasi dana hari tuanya. Lisa mengatakan, umumnya, biaya kehidupan saat pensiun adalah 50%-75% dari biaya hidup saat masih aktif bekerja. Namun, besarnya biaya hidup masa pensiun ini memang tergantung dari gaya hidup yang Anda pilih. Ada pula yang biaya hidupnya justru lebih besar karena orang tersebut ingin menikmati hidupnya.
Pilihan perawatan
Nah, berkaitan dengan perencanaan perawatan dan penjagaan bagi para lansia setelah mereka mulai kehilangan kemampuan dasarnya, berikut ini ada beberapa pilihan yang mungkin bisa Anda pertimbangkan.
Membeli long term care insurance
Nama long term care insurance (LTC) mungkin masih terdengar asing di telinga Anda. Ini bisa dimaklumi karena produk asuransi ini memang sepertinya belum ditawarkan di Indonesia. Namun, perencana keuangan dari Shildt Financial Planner Risza Bambang berpendapat, produk ini sangat cocok menjawab kebutuhan akan perawatan dan penjagaan bagi seseorang yang sudah kehilangan kemampuan untuk melakukan hal-hal dasar seperti para lansia.
LTC sebenarnya tidak hanya ditujukan bagi para lansia tetapi bagi siapa pun yang sudah mulai kehilangan kemampuan untuk melakukan kegiatan dasar. Kegiatan dasar yang dimaksud, antara lain, makan, mandi, memakai baju, dan berjalan. “Kebutuhan seperti ini tentu tidak dikover oleh asuransi kesehatan atau asuransi penyakit kritis,” kata Risza.
Pasalnya, asuransi kesehatan hanya menerima klaim dari pemegang polis jika orang tersebut melakukan rawat inap dan rawat jalan saja. Demikian juga dengan asuransi penyakit kritis yang memberikan penggantian biaya ketika pasien memang sudah sakit. Sementara LTC melakukan penggantian biaya bagi seseorang yang mulai terbatas secara fisik meski orang tersebut tidak sedang dalam kondisi sakit.
Penanganan bagi pemegang polis LTC bisa menyerupai di rumahsakit juga. Misalnya saja, menyediakan kamar tidur khusus, toilet khusus, dan kursi roda, hingga menempatkan perawat untuk membantu si pemegang polis yang sudah tidak bisa mandiri tersebut.
Untuk mendapatkan manfaat LTC tentu ada biaya lebih besar yang harus dirogoh dibandingkan jika Anda membeli asuransi kesehatan atau asuransi penyakit kritis. Risza mencontohkan, di Boston, AS biaya perawatan untuk pemegang polis LTC dalam setahunnya bisa mencapai US$ 40.000–US$ 100.000 atau sekitar Rp 365,8 juta–Rp 914,5 juta (kurs US$ 1 = Rp 9.145).
Besar kecilnya premi untuk bisa mendapatkan manfaat tersebut tentu beragam. Layaknya asuransi, faktor profil dan tingkat kesehatan pemegang polis sangat menentukan penghitungan premi oleh perusahaan asuransi. Tak terkecuali jenis perawatan macam apa yang diinginkan.
Karena harganya mahal, Risza bilang, hanya orang tertentu yang bisa dan layak membeli asuransi LTC. Selain mesti memiliki kemampuan finansial yang memadai, Risza mengatakan, Anda yang memiliki risiko penyakit genetis, seperti stroke, kanker, obesitas, dan parkinson, lebih layak membeli produk ini karena potensi terkena penyakit serupa sangat besar.
Produk LTC ini sudah marak dan umum ditawarkan di Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Kanada. Meski produk ini tak dijajakan di Tanah Air, Anda juga tetap bisa memiliki produk ini. Kata Risza, Anda bisa melongok produk asuransi yang ditawarkan perusahaan asuransi di luar. “Paling dekat coba lihat asuransi di Australia karena setahun saya di sana sudah ada LTC,” katanya.
Beberapa perusahaan asuransi yang diketahui menawarkan produk LTC, seperti John Hancock Life Insurance, Prudential Financial, dan Sun Life Financial. Dari hasil simulasi premi di website John Hancock, seseorang yang berusia 30 tahun dan tinggal di Texas harus membayar premi tahunan US$ 2.280 (sekitar Rp 20,85 juta) atau premi bulanannya US$ 205,2 (sekitar Rp 1,88 juta). Premi tersebut untuk besaran uang pertanggungan US$ 547.500 (sekitar Rp 5 miliar) dengan masa asuransi lima tahun dan manfaat harian sebesar US$ 300 (sekitar Rp 2,74 juta).
Menyewa perawat
Selain membeli LTC, Anda bisa juga menyewa perawat pribadi di rumah. Perawat yang dimaksud bisa saja berasal dari rumahsakit atau perawat pribadi yang memang sudah terlatih untuk merawat lansia hingga pada tindakan medis paling sederhana.
Memang saat ini tidak ada standar gaji bagi perawat lansia. Melongok website Yayasan Cinta Keluarga, salah satu penyalur jasa baby sitter, perawat lansia, dan pembantu rumahtangga (PRT), gaji perawat lansia berpengalaman mulai Rp 1,5 juta-Rp 3 juta per bulan. Oh, ya, biaya tersebut baru gaji bagi perawatnya lo, belum mencakup biaya medis yang kemungkinan dibutuhkan lansia.
Lisa mengatakan, untuk biaya medis, sebaiknya Anda mengandalkan asuransi kesehatan yang sudah dibeli saat masih muda dan sehat. Sementara untuk biaya perawatan di rumah, termasuk menggaji perawat, barulah mengambil dana yang tersimpan dalam instrumen investasi yang juga diasumsikan sudah dikumpulkan semasa masih aktif bekerja.
Tinggal di panti werda
Sengaja bercita-cita menghabiskan waktu di panti werda mungkin belum dianggap lumrah oleh masyarakat Indonesia. Lisa mengatakan, sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan panti werda adalah tempat buangan. “Padahal, ada positifnya juga, yakni mereka tinggal di komunitas yang sama, diperhatikan dari sisi gizi, dijaga orang berkompeten, dan tidak kehilangan kehidupan sosial juga,” beber Lisa.
Jika Anda mempunyai pemahaman yang sama dan kelak tertarik tinggal di panti werda, silakan simak simulasi 2 dan 3 pada tabel di samping. Asumsi Lisa, biaya tinggal di panti werda Rp 4,25 juta dan Rp 6 juta per bulan tersebut sudah masuk kategori menengah atas untuk wilayah Jakarta. Tentu ada pula biaya tinggal di panti werda yang harganya lebih miring.
Sumber pendanaan
Sokongan finansial yang mantap setidaknya bisa menjadi jaminan akan perawatan masa lansia yang lebih berkualitas. Jenis perawatan lansia yang Anda pilih tentu akan mempengaruhi besar dana yang mesti diinvestasikan dan pilihan keranjang investasinya.
Para perencana keuangan pun kompak menyebut, selama rentang investasinya masih panjang alias di atas 15 tahun keranjang investasi berbasis saham layak menjadi pilihan. Instrumennya bisa langsung saham, reksadana saham, dan reksadana campuran. Maklum, instrumen berbasis saham secara historikal bisa menghasilkan keuntungan rata-rata di atas 25% per tahun alias mengalahkan inflasi.
Lisa dan Risza bilang, jelang masa pensiun, instrumen investasi berbasis saham tersebut sebaiknya dialihkan ke instrumen investasi yang lebih likuid dan bisa memberikan pemasukan tetap. Tujuannya agar dana lebih mudah diambil. Misalnya, deposito, ORI atau sukuk ritel.
Selamat menyusun rencana hari tua yang menyenangkan!

sumber kontan.co.id oleh Anastasia Lilin Y -

Apa sih dana darurat itu?

Pasti banyak yang belum mengerti apa itu dana darurat meskipun sudah sering mendengarnya. Dana darurat ternyata menjadi hal yang sangat penting untuk diadakan dan dikelola dalam kehidupan keuangan kita

Persiapkan dana pendidikan buah hati sejak dini

JAKARTA. Tim Share & Learn KONTAN kembali bergerak. Sabtu (13/10), KONTAN menggelar edukasi finansial tersebut di sekolah Bunda Hati Kudus (BHK) Kota Wisata, Cibubur.

Mencicil emas Tawaran cicilan emas marak, apa plus-minusnya?

JAKARTA. Bukan cuma kendaraan, barang elektronik, atau rumah yang bisa dicicil. Kini, sudah banyak, lo, pihak yang menawarkan pembiayaan alias kredit kepemilikan emas.

Memilih Payung yang Sesuai Ukuran Badan

Memproteksi diri, keluarga, dan harta benda terhadap risiko masa depan sudah menjadi kebutuhan wajib. Agar asuransi bisa memberi proteksi dan manfaat sesuai keinginan, Anda perlu memilah produk sesuai risiko

6 Langkah Bebas Utang

Jakarta - Utang saat ini menjadi gaya hidup kebanyakan orang, karena hampir separuh masalah yang ditemui pada saat melakukan Financial Check Up di AFC adalah besarnya Debt Service Ratio atau Rasio Cicilan.

Mari kita lihat beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk membuat kita segera keluar dari pola hidup berutang:

1. Jujur pada diri sendiri.
Banyak orang hidup melebihi kemampuannya, berpenghasilan Rp 5 juta namun hidup dengan life style Rp 10 juta, sehingga tidak heran cashflow minus setiap bulan ditutupi dengan hutang kartu kredit, utang KTA, dan berbagai macam utang lainnya. Mungkin orang lain bisa kita bohongi dengan penampilan kita, pakaian, mobil dan gadget yang kita pakai, tapi hanya diri kita yang tahu sebenarnya kondisi keuangan kita.

2. Miliki Tujuan keuangan.
Saat diberi informasi bahwa untuk mencapai Dana Pensiun seorang klien, nilainya ternyata lebih kecil dari cicilan utangnya, ia menjadi lebih semangat untuk segera melunasi utang-utang konsumtif yang dimilikinya, begitu juga halnya dengan orang tua setelah tau berapa jumlah yang harus diinvestasi untuk Dana Pendidikan anaknya mereka menyesal telah menyia-nyiakan uang mereka untuk cicilan utang konsumtif selama ini.

3. Cek Aset yang kita miliki.
Ternyata banyak juga orang yang memiliki aset untuk melunasi utangnya namun memilih tidak melunasi. Coba bayangkan jika kita memiliki uang tunai di tabungan sebesar Rp 50 juta, namun memiliki hutang kartu kredit Rp 10 juta? Kita hanya mendapatkan return 3-4% per tahun, namun harus membayar bunga 2-4% per bulan atau 24-48% per tahun! Gunakan aset untuk melunasi utang dan alihkan cicilan utang anda untuk tabungan dan investasi yang benar.

4. Belajar berkata tidak.
Penawaran saat ini ada di mana-mana, masuk melalui sms, blackberry messenger, telepon, dari mulai menawarkan barang, usaha/bisnis, kartu kredit, investasi, asuransi, hutang KTA, dsb. Pada saat kita tidak bisa menolak sesuatu yang sebenarnya belum tentu kita butuhkan, maka konsekuensinya akan ada biaya yang harus dikeluarkan, dan bertambah sulit jika pembayaran dilakukan dengan autodebet credit card. Utang konsumtif bertambah tanpa akses dari kita dan rutin. Jadi tegaslah berkata tidak, lakukan transaksi di mana anda yang memiliki inisiatif.

5. Belajar berkata cukup.
Jika membeli satu barang saja sudah cukup maka kita tidak perlu membeli selusin barang yang sama, dengan alasan selagi ada diskon bagi pemegang kartu kredit tertentu. Diskon akan selalu ada, jadi tidak perlu kuatir, karena buat apa menumpuk barang yang belum tentu digunakan dalam waktu dekat bahkan kemungkinan bisa expired karena terlalu lama disimpan, ditumpuk dalam lemari atau gudang.

6. Tingkatkan penghasilan/income.
Terkadang untuk menjadi kreatif perlu tantangan, beban berat dari hutang sebenarnya bisa membuat seseorang menjadi lebih kreatif untuk mencari alternatif income tambahan yang bisa dimulai dengan usaha yang tidak memerlukan modal besar misal: bisnis online yang sesuai minat (fashion, photography, food, automotive, stamps, dll).

Jika kita bisa menyicil hutang konsumtif selama ini, yang based on experience jumlahnya tidak pernah kecil, maka sebenarnya tanpa anda sadari anda memiliki kemampuan besar untuk berinvestasi dan mencapai tujuan keuangan anda dimasa yang akan datang.

Kalau anda bisa hidup tenang tanpa utang kenapa harus berutang?

Yosephine P. Tyas S.Kom, MM, RFA®
Senior Associate Advisor
 sumber http://finance.detik.com

Memilih Asuransi Pendidikan yang Tepat

Jakarta - Saya senang sekali membaca kolom tanya-jawab yang bapak asuh karena keterangan, informasi serta jawaban dari bapak sangat membantu saya. Saya memiliki sebuah pertanyaan yang saya rasa banyak dialami oleh ibu-ibu muda.

Investasi Risiko Rendah Tanpa Mengganggu Pekerjaan

Jakarta - Pertanyaan dari pembaca: Saya laki-laki 30 tahun, karyawan swasta, single, Jawa Timur. THP/bulan Rp 14 juta dan setelah dikurangi konsumsi, pajak, cicilan mobil dan cicilan rumah, saya

Berapa Persen Gaji yang Harus Ditabung?

Jakarta - Pertanyaan: Saya seorang karyawan swasta dengan gaji Rp 5 juta. Saya berumur 24 tahun dan belum menikah, dan yang ingin saya pertanyakan adalah bagaimana cara me-manage gaji saya yang paling

Merencanakan Keuangan Anda

Anda tentunya tahu bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan. Kebutuhan orang dewasa akan selalu

4 Langkah Merencanakan Keuangan

Idealnya, sejak awal berpenghasilan, setiap orang memiliki perencanaan keuangan, mulai jangka pendek hingga jangka panjang. Dengan begitu, masa produktifnya tidak berakhir dengan sia-sia, karena upaya yang telah dilakukannya membuahkan hasil saat masa produktif berakhir.

5 Kiat agar Mahasiswa Kelak Mampu KPR

"Waktu adalah uang". Demikian ungkapan yang sudah akrab di telinga kita. Ya, memang semakin lama waktu yang ditempuh, semakin mahal pula biaya yang dikeluarkan. Artikel kali ini kami fokuskan kepada mereka

"Cash is The King"

Pernah mendengar istilah cash is the king alias punya uang tunai adalah raja? Saya asumsikan Anda pernah dengar atau tahu istilah tersebut. Makna utama dari istilah ini adalah ketika Anda memiliki cukup uang kas, Anda akan memiliki fleksibilitas dan kemudahan dalam hal keuangan.

Perencanaan Keuangan dalam Keluarga

“Saya ingin beli rumah”
‘”Saya ingin beli mobil”
“Saya ingin liburan ke Jepang”
“Saya ingin buka bisnis sendiri”
…..’ingin ini, ingin itu…..”

Berhutang Pas, Kantong Pas


Salah satu bagian dalam manajemen keuangan keluarga adalah mengelola hutang. Hampir setiap individu dari kita pernah berhutang. Beberapa dari kita ada yang kurang beruntung mengelola hutangnya sehingga

Asuransi & Investasi


Dalam melakukan perencanaan keuangan ada 2 hal pokok yang harus senantiasa Anda penuhi untuk dimiliki disepanjang perjalanan kehidupan Anda . 2 hal tersebut adalah: asuransi dan investasi.

Investasi Tanah, Rumah atau Apartemen?

Pembaca yang bijak, setelah artikel mengenai 5 Kiat agar Mahasiswa Mampu KPR, maka kini saatnya membahas secara garis besar mana yang lebih menguntungkan diantara investasi properti tanah, rumah atau

Siapa Pun Bisa Menjadi Kaya 2

KOMPAS.com - Seperti dijelaskan pada artikel kami yang pertama bahwa batasan antara investasi dan spekulasi adalah tipis sekali, sering kali dalam melakukan investasi kita tidak memiliki batas minimal

Siapapun Bisa Menjadi Kaya 1

Pembaca Kompas.com yang bijak, Lebaran baru saja berlalu, pengeluaran uang dalam jumlah yang besar telah dilakukan. Setelah Lebaran usai, kini saatnya anda melakukan akumulasi kekayaan dengan tujuan agar

Utang & Kartu Sakti

Jakarta - “DISKON 50%, Penawaran Platinum, Dapatkan Potongan Harga, Cicilan 12 kali Bunga 0%, Dapatkan Hadiah TV Flat Screen, dll”. Kata-kata itu sudah sering terdengar oleh telinga kita. Penawaran