Jakarta - “DISKON 50%, Penawaran Platinum, Dapatkan
Potongan Harga, Cicilan 12 kali Bunga 0%, Dapatkan Hadiah TV Flat
Screen, dll”. Kata-kata itu sudah sering terdengar oleh telinga kita.
Penawaran
potongan harga, diskon, bunga 0%, menjadi daya tarik tersendiri untuk memiliki selembar kartu plastik yang sangat efektif dan powerful. Ya, betul sekali, kartu plastik itu tidak lain dan tidak bukan adalah kartu kredit, atau bahasa kerennya “Credit Card”.
Pernahkah kita mempertanyakan dari mana asalnya kartu sakti dan serba canggih tersebut? Sejak kapan munculnya? Kenapa berbentuk kartu? Dan berjuta pertanyaan lainnya yang sering kali dianggap pertanyaan konyol. Memang pada akhirnya itu akan tetap menjadi pertanyaan konyol, karena kita lebih tertarik kepada fitur-fitur penawaran dan siapa yang mengeluarkan kartu sakti tersebut.
Sekarang, mari kita buang pertanyaan konyol tersebut jauh-jauh. Saatnya kita bedah keseluruhan dari kartu sakti tersebut. Pertanyaan sederhana yang muncul pertama kali pada saat seseorang ingin memiliki dan menggunakan kartu sakti tersebut adalah, kenapa? Kenapa Saya membutuhkan kartu tersebut? Satu pertanyaan dengan berjuta jawaban.
Memang benar, namanya juga kartu sakti. Cukup dengan satu pertanyaan, mengundang berjuta alasan untuk menggunakannya.
Untuk seorang professional dengan tingkat kesibukan yang tinggi menggunakan kartu sakti tersebut untuk kemudahan bertransaksi, dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai bagian indentitas jati diri, atau bahasa gampangnya untuk prestige. Sebagian lagi mengemukakan alasan mereka menggunakan kartu tersebut karena tergiur oleh penawaran potongan harga, bonus, dan fitur-fitur lainnya.
Tidak kalah canggih, ada juga beberapa pihak yang menggunakan lantaran karena siapa yang mengeluarkan kartu tersebut. Karena institusinya kah, nama produknya, bentuk kartunya, dan hal lainya yang lebih mengacu kepada tampilan fisik kartu sakti tersebut. intinya, apapun alasannya, orang-orang tetap menggunakan kartu sakti tersebut. Bahkan tidak heran jika 1 orang bisa memiliki lebih dari 1 kartu sakti tersebut. Lalu,
Berbicara masalah kartu, sebenarnya apa fungsi utama kartu ini? Tidak perlu pusing-pusing atau membedah kamus terlalu dalam, cukup dilihat dari namanya saja. Kartu kredit, atau bahasa kerennya Credit Card, adalah kartu untuk berutang.
Utang, itu kata kunci dari kartu sakti tersebut. Sungguh Ironis memang, produk utang tersebut sangat laku di pasaran. Seolah-olah mengajarkan masyarakat untuk terus berutang dan berkonsumsi tanpa melihat dampak keseluruhan dari berutang.
Sementara produk-produk keungan yang dapat membantu mengembangkan nilai dan jumlah uang malah dipandang dengan tatapan sinis penuh curiga.
Kita tinggalkan dulu produk investasi, kembali ke fokus utama yaitu kartu berutang. Dengan segala kemudahannya, kartu tersebut merajalela di sela-sela sempit di dalam dompet Anda. Pertanyaannya, sudahkah kita mengerti secara keseluruhan tentang konsep berutang? Kapan kita boleh berutang? Sebesar apa kita bisa berutang? Semua itu merupakan pertanyaan dasar yang selalu ditanyakan oleh kebanyakan orang terhadap perencanaan keuangan.
Kita ungkap satu persatu, apakah utang itu? Utang, bahasa sederhananya adalah pinjaman. Utang akan muncul pada saat seseorang membutuhkan sesuatu, tetapi orang tersebut belum memiliki aset untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga mengharuskan utuk melakukan pinjaman aset dari pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.
Pinjaman tersebut harus dikembalikan oleh si peminjam kepada yang meminjamkan dalam kurun waktu yang telah disepakati. Kurang lebih itulah penjabaran tentang berutang. Apakah berutang itu baik?
Melalui kaca mata perencanan keuangan, berutang itu bisa baik, dan bisa juga tidak baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang seseorang memerlukan utang untuk kelangsungan hidupnya. Bukan utangnya yang tidak baik, akan tetapi implementasi pelaksanaan dan pengaturan utang yang tidak terarahlah yang membuat hutang menjadi sangat tidak baik.
Konsep pengaturan sederhana untuk berutang adalah batas maksimal berhutang adalah 35% dari jumlah penghasilan. Oleh karena itu, pengaturan penggunaan kartu kreditpun dapat dilakukan dengan memberikan batasan penggunaan pagu kredit sebesar 30%-35% dari jumlah penghasilan.
Bagaimana strategi dan sebaiknya kita berhutang dengan Kartu Kredit? Akan kita bahas di tulisan berikutnya.
Bersambung dari tulisan sebelumnya, mari kita bahas bagaimana strategi berutang dengan kartu kredit. Ditulisan sebelumnya kita bahas tentang batasan atau pagu kredit dan cicilan yang bisa kita ambil, minimal dengan pola pengaturan tersebut, kita tidak akan kebingungan untuk membayar tagihan kartu kredit untuk akhir bulan.
Kecuali bagi orang-orang yang sudah bisa berdisiplin tinggi dalam penggunaan kartu kredit. Yaitu dengan langsung membayarkan tagihan kartu kredit pada saat telah digunakan. Dengan berdisiplin tinggi seperti itu, akhirnya kartu kredit dapat berubah fungsi menjadi kartu penunda pembayaran tunai. Karena pada akhirnya nilai tunai tersebut akan langsung dibayarkan oleh pengguna kartu kredit tersebut.
Pertanyaan yang sering muncul berikutnya yaitu, kapan kita boleh berutang? Konsep sederhananya yaitu pada saat seseorang sudah memiliki dana lebih, di luar dana darurat dan dana investasi lainya, dan besarnya utang tersebut tidak lebih dari 30%-35% total penghasilan.
Khusus untuk hutang konsumsi yang sering kali menggunakan kartu kredit sebagai media berutang, ada beberapa hal penting yang harus selalu diterapkan. Yaitu, pastikan Anda memiliki dana yang jumlahnya lebih besar dari jumlah dana yang Anda gunakan untuk berutang. Sehingga, Anda bisa langsung melunasi tagihan kartu kredit setelah menggunakannya. Bagaimana jika hal tersebut sulit dilakukan?
Lantaran sangat sulit untuk beredisiplin menggunakan kartu kredit. Jika hal tersebut permasalahannya, dapat dibantu dengan membuat batasan terhadap jumlah total pagu kartu kredit dengan total tidak lebih dari 35% dari total penghasilan.
Hal ini berlaku untuk total pagu yang dimiliki dari keseluruhan kartu kredit. Artinya, berapapun banyaknya kartu kredit yang Anda miliki, total pagu keseluruhan yang disarankan tidak lebih dari 35% total penghasilan. Harus tetap diingat bahwa toleransi maksimal berutang adalah 35% dari total penghasilan.
Setelah mengetahui konsep dasar tentang berhutang, banyak orang yang bertanya tentang berapa banyak sebaiknya Saya memiliki kartu kredit? Karena kecendrungan orang untuk memiliki kartu kredit dengan pagu kredit yang besar. Seorang perencana keuangan selalu mengingatkan, hati-hati terhadap penentuan jumlah pagu kredit.
Semakin besar pagu kredit, tidak menjamin kehidupan Anda semakin mudah. Memang sangat mudah pada saat bertransaksi, akan tetapi, apakah menjadi mudah pada saat tagihan kartu kredit datang dan tertera kata-kata jatuh tempo di dalamnya? Mungkin inilah pertanyaan yang mudah, tetapi sulit untuk dijawab. Jawabannya sangat mudah, memiliki kartu kredit yang banyak bisa menjadi baik atau buruk. Pasti Anda bertanya-tanya kenapa bisa baik dan buruk?
Memiliki kartu kredit banyak bisa menjadi buruk apabila jumlah total cicilan bulanan kredit melebihi batasan 35% total penghasilan, sehingga Anda akan mengalami kesulitan untuk melunasi tagihan kartu kredit tersebut, Malah, tidak menutup kemungkinan Anda akan melunasi kartu kredit dengan kartu kredit yang lain.
Selain itu bisa menjadi buruk apabila Anda belum bisa berdisiplin dalam berbelanja. Dua hal tersebut merupakan faktor utama mengapa memiliki banyak kartu kredit bisa menjadi buruk. Lalu, di mana sisi baiknya? Ada hal penting dalam kartu kredit yang sering kali dilupakan oleh masyarakat, yaitu nama baik dan citra seorang pengguna kartu kredit.
Harus diingat, pada saat pertama kali mendaftar untuk memiliki kartu kredit. Sesorang akan diperiksa secara menyeluruh oleh institusi keuangan tentang kesehatan catatan keuangan mereka. Pada saat kartu kredit berada di genggaman tangan Anda, artinya Anda sudah mendapatkan kepercayaan dari institusi keuangan.
Anda memiliki catatan yang baik. Sehingga semakin banyak Anda memiliki kartu kredit, semakin baik citra dan kredibilitas Anda di mata institusi keuangan dan di dunia keuangan. Terlepas Anda menggunakan kartu-kartu tersebut atau tidak, jangan kuatir. Anda sudah mendapatkan kepercayaan dari pihak yang memberikan kartu kredit.
Jadi, Sudah siapkah Anda menggunakan kartu kredit? Pantaskan Anda mendapatkan kepercayaan untuk menggunakan kartu kredit? Cobalah jawab dua pertanyaan dasar di atas untuk diri sendiri. Seorang perencanan keuangan selalu mengingatkan bahwa seluruh instrumen keuangan diciptakan untuk hal yang baik, dan memang baik adanya.
Akan tetapi hal tersebut menjadi kurang atau tidak baik pada saat seseorang salah mengimplementasikannya. Tetapi, tidak perlu berkecil hati. Justru karena pernah salahlah, seseorang belajar untuk menjadi lebih baik. Financial Should Be Simple, Practicle, and Fun.
sumber detik.com
potongan harga, diskon, bunga 0%, menjadi daya tarik tersendiri untuk memiliki selembar kartu plastik yang sangat efektif dan powerful. Ya, betul sekali, kartu plastik itu tidak lain dan tidak bukan adalah kartu kredit, atau bahasa kerennya “Credit Card”.
Pernahkah kita mempertanyakan dari mana asalnya kartu sakti dan serba canggih tersebut? Sejak kapan munculnya? Kenapa berbentuk kartu? Dan berjuta pertanyaan lainnya yang sering kali dianggap pertanyaan konyol. Memang pada akhirnya itu akan tetap menjadi pertanyaan konyol, karena kita lebih tertarik kepada fitur-fitur penawaran dan siapa yang mengeluarkan kartu sakti tersebut.
Sekarang, mari kita buang pertanyaan konyol tersebut jauh-jauh. Saatnya kita bedah keseluruhan dari kartu sakti tersebut. Pertanyaan sederhana yang muncul pertama kali pada saat seseorang ingin memiliki dan menggunakan kartu sakti tersebut adalah, kenapa? Kenapa Saya membutuhkan kartu tersebut? Satu pertanyaan dengan berjuta jawaban.
Memang benar, namanya juga kartu sakti. Cukup dengan satu pertanyaan, mengundang berjuta alasan untuk menggunakannya.
Untuk seorang professional dengan tingkat kesibukan yang tinggi menggunakan kartu sakti tersebut untuk kemudahan bertransaksi, dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai bagian indentitas jati diri, atau bahasa gampangnya untuk prestige. Sebagian lagi mengemukakan alasan mereka menggunakan kartu tersebut karena tergiur oleh penawaran potongan harga, bonus, dan fitur-fitur lainnya.
Tidak kalah canggih, ada juga beberapa pihak yang menggunakan lantaran karena siapa yang mengeluarkan kartu tersebut. Karena institusinya kah, nama produknya, bentuk kartunya, dan hal lainya yang lebih mengacu kepada tampilan fisik kartu sakti tersebut. intinya, apapun alasannya, orang-orang tetap menggunakan kartu sakti tersebut. Bahkan tidak heran jika 1 orang bisa memiliki lebih dari 1 kartu sakti tersebut. Lalu,
Berbicara masalah kartu, sebenarnya apa fungsi utama kartu ini? Tidak perlu pusing-pusing atau membedah kamus terlalu dalam, cukup dilihat dari namanya saja. Kartu kredit, atau bahasa kerennya Credit Card, adalah kartu untuk berutang.
Utang, itu kata kunci dari kartu sakti tersebut. Sungguh Ironis memang, produk utang tersebut sangat laku di pasaran. Seolah-olah mengajarkan masyarakat untuk terus berutang dan berkonsumsi tanpa melihat dampak keseluruhan dari berutang.
Sementara produk-produk keungan yang dapat membantu mengembangkan nilai dan jumlah uang malah dipandang dengan tatapan sinis penuh curiga.
Kita tinggalkan dulu produk investasi, kembali ke fokus utama yaitu kartu berutang. Dengan segala kemudahannya, kartu tersebut merajalela di sela-sela sempit di dalam dompet Anda. Pertanyaannya, sudahkah kita mengerti secara keseluruhan tentang konsep berutang? Kapan kita boleh berutang? Sebesar apa kita bisa berutang? Semua itu merupakan pertanyaan dasar yang selalu ditanyakan oleh kebanyakan orang terhadap perencanaan keuangan.
Kita ungkap satu persatu, apakah utang itu? Utang, bahasa sederhananya adalah pinjaman. Utang akan muncul pada saat seseorang membutuhkan sesuatu, tetapi orang tersebut belum memiliki aset untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga mengharuskan utuk melakukan pinjaman aset dari pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.
Pinjaman tersebut harus dikembalikan oleh si peminjam kepada yang meminjamkan dalam kurun waktu yang telah disepakati. Kurang lebih itulah penjabaran tentang berutang. Apakah berutang itu baik?
Melalui kaca mata perencanan keuangan, berutang itu bisa baik, dan bisa juga tidak baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang seseorang memerlukan utang untuk kelangsungan hidupnya. Bukan utangnya yang tidak baik, akan tetapi implementasi pelaksanaan dan pengaturan utang yang tidak terarahlah yang membuat hutang menjadi sangat tidak baik.
Konsep pengaturan sederhana untuk berutang adalah batas maksimal berhutang adalah 35% dari jumlah penghasilan. Oleh karena itu, pengaturan penggunaan kartu kreditpun dapat dilakukan dengan memberikan batasan penggunaan pagu kredit sebesar 30%-35% dari jumlah penghasilan.
Bagaimana strategi dan sebaiknya kita berhutang dengan Kartu Kredit? Akan kita bahas di tulisan berikutnya.
Bersambung dari tulisan sebelumnya, mari kita bahas bagaimana strategi berutang dengan kartu kredit. Ditulisan sebelumnya kita bahas tentang batasan atau pagu kredit dan cicilan yang bisa kita ambil, minimal dengan pola pengaturan tersebut, kita tidak akan kebingungan untuk membayar tagihan kartu kredit untuk akhir bulan.
Kecuali bagi orang-orang yang sudah bisa berdisiplin tinggi dalam penggunaan kartu kredit. Yaitu dengan langsung membayarkan tagihan kartu kredit pada saat telah digunakan. Dengan berdisiplin tinggi seperti itu, akhirnya kartu kredit dapat berubah fungsi menjadi kartu penunda pembayaran tunai. Karena pada akhirnya nilai tunai tersebut akan langsung dibayarkan oleh pengguna kartu kredit tersebut.
Pertanyaan yang sering muncul berikutnya yaitu, kapan kita boleh berutang? Konsep sederhananya yaitu pada saat seseorang sudah memiliki dana lebih, di luar dana darurat dan dana investasi lainya, dan besarnya utang tersebut tidak lebih dari 30%-35% total penghasilan.
Khusus untuk hutang konsumsi yang sering kali menggunakan kartu kredit sebagai media berutang, ada beberapa hal penting yang harus selalu diterapkan. Yaitu, pastikan Anda memiliki dana yang jumlahnya lebih besar dari jumlah dana yang Anda gunakan untuk berutang. Sehingga, Anda bisa langsung melunasi tagihan kartu kredit setelah menggunakannya. Bagaimana jika hal tersebut sulit dilakukan?
Lantaran sangat sulit untuk beredisiplin menggunakan kartu kredit. Jika hal tersebut permasalahannya, dapat dibantu dengan membuat batasan terhadap jumlah total pagu kartu kredit dengan total tidak lebih dari 35% dari total penghasilan.
Hal ini berlaku untuk total pagu yang dimiliki dari keseluruhan kartu kredit. Artinya, berapapun banyaknya kartu kredit yang Anda miliki, total pagu keseluruhan yang disarankan tidak lebih dari 35% total penghasilan. Harus tetap diingat bahwa toleransi maksimal berutang adalah 35% dari total penghasilan.
Setelah mengetahui konsep dasar tentang berhutang, banyak orang yang bertanya tentang berapa banyak sebaiknya Saya memiliki kartu kredit? Karena kecendrungan orang untuk memiliki kartu kredit dengan pagu kredit yang besar. Seorang perencana keuangan selalu mengingatkan, hati-hati terhadap penentuan jumlah pagu kredit.
Semakin besar pagu kredit, tidak menjamin kehidupan Anda semakin mudah. Memang sangat mudah pada saat bertransaksi, akan tetapi, apakah menjadi mudah pada saat tagihan kartu kredit datang dan tertera kata-kata jatuh tempo di dalamnya? Mungkin inilah pertanyaan yang mudah, tetapi sulit untuk dijawab. Jawabannya sangat mudah, memiliki kartu kredit yang banyak bisa menjadi baik atau buruk. Pasti Anda bertanya-tanya kenapa bisa baik dan buruk?
Memiliki kartu kredit banyak bisa menjadi buruk apabila jumlah total cicilan bulanan kredit melebihi batasan 35% total penghasilan, sehingga Anda akan mengalami kesulitan untuk melunasi tagihan kartu kredit tersebut, Malah, tidak menutup kemungkinan Anda akan melunasi kartu kredit dengan kartu kredit yang lain.
Selain itu bisa menjadi buruk apabila Anda belum bisa berdisiplin dalam berbelanja. Dua hal tersebut merupakan faktor utama mengapa memiliki banyak kartu kredit bisa menjadi buruk. Lalu, di mana sisi baiknya? Ada hal penting dalam kartu kredit yang sering kali dilupakan oleh masyarakat, yaitu nama baik dan citra seorang pengguna kartu kredit.
Harus diingat, pada saat pertama kali mendaftar untuk memiliki kartu kredit. Sesorang akan diperiksa secara menyeluruh oleh institusi keuangan tentang kesehatan catatan keuangan mereka. Pada saat kartu kredit berada di genggaman tangan Anda, artinya Anda sudah mendapatkan kepercayaan dari institusi keuangan.
Anda memiliki catatan yang baik. Sehingga semakin banyak Anda memiliki kartu kredit, semakin baik citra dan kredibilitas Anda di mata institusi keuangan dan di dunia keuangan. Terlepas Anda menggunakan kartu-kartu tersebut atau tidak, jangan kuatir. Anda sudah mendapatkan kepercayaan dari pihak yang memberikan kartu kredit.
Jadi, Sudah siapkah Anda menggunakan kartu kredit? Pantaskan Anda mendapatkan kepercayaan untuk menggunakan kartu kredit? Cobalah jawab dua pertanyaan dasar di atas untuk diri sendiri. Seorang perencanan keuangan selalu mengingatkan bahwa seluruh instrumen keuangan diciptakan untuk hal yang baik, dan memang baik adanya.
Akan tetapi hal tersebut menjadi kurang atau tidak baik pada saat seseorang salah mengimplementasikannya. Tetapi, tidak perlu berkecil hati. Justru karena pernah salahlah, seseorang belajar untuk menjadi lebih baik. Financial Should Be Simple, Practicle, and Fun.
sumber detik.com