Ketika sebagian orang phobi berbicara asuransi, ada yang disebabkan
trauma karena klaimnya ribet, ada
yang memandang ini produk orang-orang yang tidak tawakkal dan lain-lain, saya justru melihatnya sebagai sebuah pilihan menabung yang cerdas.
Mengapa demikian ?
Pertama, coba kita lihat kebutuhan yang sudah pasti di masa depan, semisal pendidikan anak. Mau tidak mau, menabung untuk pendidikan anak harus dilakukan. Tidak harus besar, tapi sebisa mungkin rutin dilakukan. Menabungnya di mana? Banyak pilihan, ada yang lebih suka menabung berupa emas sehingga ketika butuh tinggal menjual, ada yang menabung di bank, ada yang menabung ke asuransi.
Untuk menabung ke bank, jika jumlah tabungan besar, memang saldo utama tidak akan tergerus. Tapi, jika kita hanya mampu menabung 100 ribu tiap bulan ? Jangankan berpikir keuntungan, yang ada juga saldo utama berkurang karena biaya admisnistrasi.
Kedua, jika ikut asuransi, ada dorongan untuk mendisiplinkan diri. Ini penting bagi yang kurang disiplin menabung. Dengan demikian maka kita akan terdorong untuk memiliki pola pembelanjaan yang lebih bijak. Jika kebanyakan masyarakat ketika mendapatkan penghasilan akan memerinci kebutuhan untuk belanja, maka dengan ikut asuransi, kita akan terbiasa memiliki pola begini : Terima gaji, sisihkan untuk zakat infaq, sisihkan untuk tabungan, termasuk asuransi, sisihkan untuk investasi (jika memungkinkan) baru sisanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Ketiga, jika ikut asuransi, apabila terdapat musibah menimpa kita, maka kebutuhan anak akan pendidikan telah terback up, setidaknya sudah ada jaminan meski bukan keseluruhan. Namun, jika menabung secara konvesional hal itu tidak akan terjadi.
Keempat, ketika anak memasuki usia sekolah, masuk SD, SMP, SMA hingga PT, kita tidak akan terlalu dipusingkan dengan kewajiban membayar DSP yang jumlahnya makin tahun makin besar saja. Karena sebagian kebutuhan anak-anak sudah terpenuhi oleh pencairan klaim asuransi anak-anak kita.
Setidaknya, itu kemanfaatan yang saya lihat dari tabungan pendidikan yang diberupakan asuransi. Masih ada produk-produk asuransi yang lain, semisal asuransi kesehatan, dana pensiun dan lain-lain. Tapi, saya melihat asuransi pendidikan lebih prioritas.
Menabung tetap penting. Untuk kebutuhan yang lainnya saya lebih suka memiliki cadangan uang yang bisa diambil sewaktu-waktu. Ini sebuah pilihan, maka kita akan memilih yang mana?
sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/06/03/asuransi-trik-menabung-cerdas-461864.html
yang memandang ini produk orang-orang yang tidak tawakkal dan lain-lain, saya justru melihatnya sebagai sebuah pilihan menabung yang cerdas.
Mengapa demikian ?
Pertama, coba kita lihat kebutuhan yang sudah pasti di masa depan, semisal pendidikan anak. Mau tidak mau, menabung untuk pendidikan anak harus dilakukan. Tidak harus besar, tapi sebisa mungkin rutin dilakukan. Menabungnya di mana? Banyak pilihan, ada yang lebih suka menabung berupa emas sehingga ketika butuh tinggal menjual, ada yang menabung di bank, ada yang menabung ke asuransi.
Untuk menabung ke bank, jika jumlah tabungan besar, memang saldo utama tidak akan tergerus. Tapi, jika kita hanya mampu menabung 100 ribu tiap bulan ? Jangankan berpikir keuntungan, yang ada juga saldo utama berkurang karena biaya admisnistrasi.
Kedua, jika ikut asuransi, ada dorongan untuk mendisiplinkan diri. Ini penting bagi yang kurang disiplin menabung. Dengan demikian maka kita akan terdorong untuk memiliki pola pembelanjaan yang lebih bijak. Jika kebanyakan masyarakat ketika mendapatkan penghasilan akan memerinci kebutuhan untuk belanja, maka dengan ikut asuransi, kita akan terbiasa memiliki pola begini : Terima gaji, sisihkan untuk zakat infaq, sisihkan untuk tabungan, termasuk asuransi, sisihkan untuk investasi (jika memungkinkan) baru sisanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Ketiga, jika ikut asuransi, apabila terdapat musibah menimpa kita, maka kebutuhan anak akan pendidikan telah terback up, setidaknya sudah ada jaminan meski bukan keseluruhan. Namun, jika menabung secara konvesional hal itu tidak akan terjadi.
Keempat, ketika anak memasuki usia sekolah, masuk SD, SMP, SMA hingga PT, kita tidak akan terlalu dipusingkan dengan kewajiban membayar DSP yang jumlahnya makin tahun makin besar saja. Karena sebagian kebutuhan anak-anak sudah terpenuhi oleh pencairan klaim asuransi anak-anak kita.
Setidaknya, itu kemanfaatan yang saya lihat dari tabungan pendidikan yang diberupakan asuransi. Masih ada produk-produk asuransi yang lain, semisal asuransi kesehatan, dana pensiun dan lain-lain. Tapi, saya melihat asuransi pendidikan lebih prioritas.
Menabung tetap penting. Untuk kebutuhan yang lainnya saya lebih suka memiliki cadangan uang yang bisa diambil sewaktu-waktu. Ini sebuah pilihan, maka kita akan memilih yang mana?
sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/06/03/asuransi-trik-menabung-cerdas-461864.html